Dosen dan mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika melaksanakan kegiatan “Mini Bridge Challenge” di SMKN 1 Rangas, Mamuju pada hari Kamis, 10 September 2026, pukul 10.00–12.00 WITA. Kegiatan ini merupakan bagian dari Pengabdian Kemitraan DIPA Unsulbar 2026 dengan judul “Pendampingan Fisika Kontekstual Melalui Proyek Jembatan Mini dalam Membentuk Persepsi Positif terhadap Fisika Siswa SMKN 1 Rangas”, yang dibalut dalam program kegiatan Program Studi “Fisika Berdampak Jilid 2″. Melalui kegiatan ini, pembelajaran fisika dikemas secara kontekstual dan aplikatif dengan mengajak siswa terlibat langsung dalam proyek pembuatan jembatan mini.

Kegiatan tersebut dilaksanakan bersama 21 siswa Kelas XI Konsentrasi Keahlian Konstruksi Jalan dan Jembatan SMKN 1 Rangas. Pemilihan kelas ini menjadi relevan dengan tema kegiatan karena proyek jembatan mini secara langsung menghubungkan pembelajaran fisika dengan bidang keahlian konstruksi yang sedang dipelajari siswa. Dalam program pengabdian, proyek jembatan mini memang dirancang sebagai media untuk membantu siswa memahami penerapan konsep fisika, seperti gaya, keseimbangan, distribusi beban, dan kekuatan struktur, dalam konteks yang dekat dengan bidang vokasional mereka.
Kegiatan diawali dengan sesi pengenalan yang dipimpin langsung oleh Wita Fardilla selaku pembawa acara. Suasana kegiatan dibangun secara hangat dan interaktif sebelum kemudian dilanjutkan dengan pengantar kegiatan yang disampaikan oleh Nurlina, S.Pd., M.Si. selaku Ketua Tim Pelaksana. Dalam pengantarnya, Nurlina memberikan gambaran mengenai kegiatan Mini Bridge Challenge serta pentingnya menghadirkan pembelajaran fisika yang tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga dapat dirasakan melalui pengalaman langsung. Melalui proyek jembatan mini, siswa diajak melihat bahwa konsep-konsep fisika yang mereka pelajari memiliki keterkaitan erat dengan pekerjaan dan permasalahan teknis di bidang konstruksi.
“Melalui kegiatan Mini Bridge Challenge ini, kami ingin menunjukkan kepada siswa bahwa fisika tidak hanya berkaitan dengan rumus dan perhitungan, tetapi juga hadir secara nyata dalam bidang keahlian yang mereka pelajari, khususnya konstruksi jalan dan jembatan”, ujar Ketua Tim Pelaksana.

Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan teknis pelaksanaan mini project oleh mahasiswa Muhammad Sahrul. Pada sesi ini, siswa memperoleh penjelasan mengenai teknis pengerjaan, ketentuan proyek, serta spesifikasi jembatan yang harus dibuat. Tahapan tersebut menjadi pembekalan penting sebelum siswa mulai mengerjakan proyek secara berkelompok. Rancangan kegiatan memang menempatkan pembekalan konseptual dan teknis sebagai tahap awal agar siswa memiliki landasan yang cukup sebelum mengimplementasikan konsep fisika melalui proyek.
Selanjutnya, siswa dibagi ke dalam lima kelompok. Masing-masing kelompok didampingi oleh mahasiswa anggota tim pelaksana, yaitu Nurul Aulia Hasri, Fatmawati, Perdi, Winda, dan Kristina. Para mahasiswa pendamping membantu memberikan arahan selama proses pengerjaan, sementara siswa tetap menjadi pihak yang aktif dalam merancang dan membangun jembatan mini mereka.
Dengan waktu yang telah ditentukan, masing-masing kelompok diberikan waktu satu jam untuk menyelesaikan jembatan mini menggunakan alat dan bahan yang telah ditentukan sebelumnya. Siswa ditantang untuk membuat jembatan sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan, sekaligus mempertimbangkan bagaimana desain yang mereka pilih dapat menghasilkan struktur yang kuat dan mampu menahan beban. Antusiasme siswa terlihat selama proses pengerjaan. Mereka bekerja bersama dalam kelompok, berdiskusi, membagi tugas, serta berusaha menyelesaikan jembatan dalam waktu yang tersedia.
Pendekatan ini sejalan dengan rancangan program Project-Based Learning (PjBL) yang menempatkan siswa sebagai pihak yang aktif dalam proses pembelajaran. Dalam proyek jembatan mini, siswa diarahkan untuk merancang, membangun, dan mempersiapkan produk untuk diuji, dengan tim pendamping memberikan arahan selama proses berlangsung. Setelah seluruh kelompok menyelesaikan jembatan masing-masing, kegiatan memasuki tahap pengujian kekuatan jembatan. Pengujian dilakukan oleh dua orang tim penguji, yaitu Mutmainnah Badu dan Aulia Nadratun Naim.

Satu per satu jembatan mini diuji untuk mengetahui daya tahannya terhadap beban. Tahap pengujian menjadi bagian yang menarik bagi siswa karena mereka dapat melihat secara langsung sejauh mana rancangan yang telah mereka buat mampu bertahan. Sebagian besar kelompok berhasil menghasilkan jembatan mini yang kukuh. Pada akhir pengujian, tim penguji kemudian menyeleksi satu kelompok yang menghasilkan jembatan dengan daya tahan terbesar. Pemilihan tersebut menjadi puncak dari Mini Bridge Challenge sekaligus memberikan pengalaman kompetitif yang positif bagi siswa. Konsep kompetisi kekuatan jembatan ini memang dirancang untuk meningkatkan motivasi, keterlibatan, dan semangat kompetitif siswa secara sehat.
“Menurut saya kegiatan ini seru karena kami tidak cuma belajar teori, tapi langsung praktik membuat jembatan. Jadi kami bisa tahu kenapa jembatan bisa kuat atau malah tidak kuat saat diberi beban”, ungkap salah seorang siswa.
Kegiatan kemudian diakhiri dengan pembagian reward oleh Tim Pelaksana sebagai bentuk apresiasi terhadap partisipasi dan usaha siswa selama mengikuti Mini Bridge Challenge. Setelah itu, siswa diminta untuk mengisi kuesioner persepsi terhadap kegiatan sebagai bagian dari evaluasi pelaksanaan program.

Berdasarkan hasil kegiatan dan respons yang diberikan siswa, pelaksanaan Mini Bridge Challenge menunjukkan respons positif terhadap pembelajaran fisika yang dikemas melalui aktivitas proyek. Antusiasme siswa selama proses pembuatan hingga pengujian menunjukkan bahwa pembelajaran melalui pengalaman langsung dapat menciptakan suasana belajar yang aktif dan menarik.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi salah satu langkah dalam menghadirkan pembelajaran fisika yang lebih kontekstual, menyenangkan, dan dekat dengan dunia keahlian siswa. Bagi siswa Kelas XI Konsentrasi Keahlian Konstruksi Jalan dan Jembatan SMKN 1 Rangas, pengalaman merancang, membangun, dan menguji jembatan mini menjadi kesempatan untuk melihat bahwa fisika bukan hanya tentang rumus, melainkan ilmu yang bekerja nyata di sekitar mereka. Kegiatan ini juga menjadi ruang kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan siswa dalam pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat. Dosen berperan dalam merancang dan mengarahkan kegiatan serta memberikan penguatan konsep fisika, mahasiswa terlibat secara langsung sebagai pendamping dalam proses pelaksanaan proyek, sementara siswa menjadi peserta aktif yang merancang, membangun, dan menguji jembatan mini. Kolaborasi tersebut menciptakan proses pembelajaran yang lebih interaktif dan partisipatif, sekaligus memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama perkuliahan dalam mendampingi masyarakat, khususnya dalam konteks pendidikan di sekolah. Dengan demikian, kegiatan pengabdian ini tidak hanya memberikan manfaat bagi siswa dalam memahami fisika secara lebih bermakna, tetapi juga menjadi bentuk nyata sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah dalam menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan siswa dan bidang keahlian mereka.
